Lompat ke konten utama

Motor Baru

nasirun

Kala itu, waktu sudah beranjak sore selepas azan Magrib ketika saya baru sempat bertandang ke rumah kontrakan Nasirun. Perjalanan saya tempuh dengan berjalan kaki—sebuah kebiasaan yang teramat lumrah pada masa itu.

Di benak saya saat itu, terbersit keinginan sederhana untuk membeli sebuah sepeda onthel tua, namun isi kantong masih belum juga mencukupi. Membayangkan punya sepeda motor jelas sebuah kemewahan yang terlampau jauh bagi mahasiswa seni rupa seperti kami, yang hidupnya masih mengandalkan kiriman wesel bulanan, sementara pasar seni belum seramai dan semakmur sekarang.

Setibanya di rumah kontrakan, saya menyapa beberapa perajin batik yang sedang sibuk bekerja. Mereka memberi tahu bahwa sang tuan rumah sedang berada di dalam kamar. Tumben sekali, batin saya heran, sebab biasanya Nasirun selalu sibuk mondar-mandir atau bercengkerama di ruang tengah. Saya pun melangkah menuju kamarnya, yang ruangannya hanya disekat selembar kain sederhana sebagai pengganti daun pintu.

Begitu kain tersibak, saya melihat Nasirun sedang merebahkan badan dengan santai, bersandar pada tumpukan bantal yang menempel di dinding.

“Ana ngapa?” (Ada apa?) tanya saya penasaran melihat gelagatnya yang janggal.

Bukannya langsung menjawab, Nasirun malah tertawa lebar dengan raut muka bangga, lalu telunjuknya mengarah ke benda di hadapannya.

“GL, Gooo… gagah banget mbok!” (Honda GL, Go… gagah sekali kan!) serunya penuh kepuasan.

Pandangan saya langsung tertuju ke arah yang ditunjuknya, dan seketika itu pula saya terperangah.

Di dalam kamar sempit itu, tepat di hadapan tempat tidurnya, terparkir sebuah sepeda motor baru yang rupanya sengaja dimasukkan agar bisa terus ia pandangi sambil rebahan.

Ya Allah… kelakuan orang satu ini memang selalu di luar nalar.

Ditulis oleh

Ugo Untoro

Ugo Untoro lahir pada 1970 di Purbalingga, Jawa Tengah. Belajar seni rupa di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Ugo adalah seniman ternama dengan pengalaman pameran di lingkup nasional maupun internasional.