Lompat ke konten utama

Menu Rolasan Ala Nasirun

Dulu, di rumah kontrakan Nasirun yang sekaligus berfungsi sebagai rumah produksi batik, ada sepasang suami-istri yang menginap untuk membantu memasak. Bagi saya, mendapat panggilan pekerjaan di sana adalah sebuah berkah. Maklum, sebagai adik kelas sekaligus mahasiswa baru yang hanya mengandalkan uang wesel, saya harus super irit membagi anggaran antara belanja bahan kuliah dan kesejahteraan perut. Kalau di tempat Nasirun, kebutuhan makan dan rokok saya dijamin aman.

Biasanya kami makan berdua, terpisah dari para pembatik agar tidak mengganggu jam istirahat mereka. Setelah makan, barulah kami bisa merokok dengan lega sebelum melanjutkan pekerjaan.

Suatu hari, dengan nada sangat optimis, Nasirun mengajak saya rolasan (makan siang jam 12).

“Nggolet lawuh yuuh, Go!” (Cari lauk yuk, Go!) ajaknya bersemangat.

Wah, mendengar ajakan itu, pikiran saya langsung melompat gembira. Saya membayangkan batiknya baru saja laku keras. Di kepala saya sudah terbayang lezatnya nasi Padang dengan rendang, perkedel, kerupuk, dan siraman kuah gulai yang kental.

Kami pun keluar rumah, berjalan ke arah samping lalu menuju ke area belakang. Saya pikir kami mau mengambil sepeda motor untuk pergi ke warung makan. Tiba-tiba Nasirun berhenti.

“La kiye, Go!” (Nah, ini dia, Go!) serunya.

Saya melongo. Ternyata ia memetik beberapa lembar daun pepaya muda dari pohon di belakang rumah, lalu menyuruh pegawainya untuk mengukus daun tersebut. Di situ, firasat saya mulai tidak enak.

Tidak lama kemudian, Nasirun memanggil, “Wis mateng, Go. Ayuh mangan!” (Sudah matang, Go. Ayo makan!).

Seketika runtuhlah bayangan makan rendang sambil berenang di dalam kuah gurih. Mau tidak mau, dengan rasa kesuh (kesal) yang tertahan, kami makan nasi hanya dengan daun pepaya kukus dan sambal. Anehnya, karena lapar, makanan itu habis juga sampai kami kenyang.

Setelah makan, tibalah ritual yang paling dinanti: merokok.

Nasirun membuka bungkus rokoknya, lalu jarinya sibuk menghitung batang yang tersisa di dalam kotak dengan sangat teliti. Ia menatap saya sambil berkata pelan:

“Rokoke gari separo, nggo tekan ngesuk ya…” (Rokoknya tinggal setengah, buat sampai besok ya…)

Diulurkan satu batang rokok ke saya, “Nyoh..selencer bae ya, Go. Ngirit ndisit.” (Nih, sebatang aja, Go. Hemat dulu).

Oalah… di situ saya baru sadar. Ternyata Nasirun memang sedang kereeee!!!

Ditulis oleh

admin